Seminar Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Guna Menunjang Ekspor UKM yang di selenggarakan kemarin pagi cukup sukses semenar ini di selenggarakan oleh Pihak Pemda Probolinggo dan Cruew Bromo Telecenter, acara ini di hadiri oleh kurang lebih 50 Pengusaha UKM kabupaten Probolinggo , bertempat di Islamic Center Ruang Arsip lantai 2 berdekatan dengan kantor Bromo Telecenter . Madsud dan tujuan dari acara ini adalah Pengenalan Dunia Teknologi Internet dan Bagaiaman memanfaatkan layananan Bromo Telecenter yang berkaitan dengan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Guna Menunjang Ekspor UKM di kabupaten probolinggo
juga di hadiri oleh Pihak dari Propinsi Jatim Pak Miswan beserta rekan-rekan dan dari Pihak Tuan rumah BAPEDDA Kabupaten Probolinggo Pak Heru dan Rekan-rekan PEMDA dan Pihak INFOKOM kabupaten probolinggo .Juga Bapak WABUP Kabupaten Probolinggo Salim Qurays, S.Ag, M.si ikut hadir dalam seminar ini. Di sini Beliau menyempatkan diri untuk berkunjung ke kantor Bromo Telecenter .
Kamis, Juli 16
Seminar Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Diposting oleh
Bromo Telecenter
di
7/16/2009 10:35:00 PM
0
komentar
Label: hot news, kraksaan zone, pariwisata, pengumuman
Jumat, Juni 26
SONGA RAFTING

Mengunjungi bumi Probolinggo saat ini ibarat menyusuri kembali perjalanan Hayam Wuruk lebih dari 500 tahun silam. Konon, menurut cerita rakyat, tak lama setelah Mahapatih Gadjah Mada dari Kerajaan Majapahit berhasil menyatukan wilayah Nusantara di tahun 1357 Masehi, Raja Hayam Wuruk adalah orang pertama yang menjadi saksi atas keindahan panorama alam Probolinggo.
Lantaran kagum dan terpesona oleh keindahan panorama di sana, Hayam Wuruk sempat berlama-lama bercengkerama di tempat itu. Tempat Hayam Wuruk bercengkerama itu kemudian disebut sebagai prabu linggih, yang lambat laun mengalami perubahan lafal menjadi Probolinggo. Dan....starting point yang dipakai Songa Rafting salah satu yang disinyalir sering dipakai mandi Mahapatih Gadjah Mada.
Sungai Pekalen, terletak 25 km dari kota Probolinggo tepatnya terbentang di antara tiga kecamatan berturut-turut yaitu kecamatan Tiris, kecamatan Maron, dan kecamatan Gading. Bantaran sungai yang bisa diarungi berjarak 29 km yang terbagi atas 3 area. Dan Songa membagi paketnya menjadi 3 bagian ; Sungai Pekalen Atas berjarak 12 km, Sungai Pekalen Tengah berjarak 7 km, dan Sungai Pekalen Bawah berjarak 10 km.
Karakteristik sungai berbelok dan bertebing, Panorama alam yang indah, puluhan jeram (grade 2 s/d 3+) yang exotic dan menantang, kemegahan air terjun, dan kemolekan gua-gua kelelawar, serta masih ditemuinya beberapa satwa langka seperti burung elang, burung kepodang, monyet, biawak, linsang, tupai dll menjadi daya tarik tersendiri yang dapat Anda nikmati selama perjalanan
Diposting oleh
Bromo Telecenter
di
6/26/2009 08:59:00 PM
0
komentar
Label: hot news, pariwisata
Gili Ketapang

Bagai perahu di tengah laut, Pulau Gili Ketapang terlihat indah tampak dari udara
Gili Ketapang adalah nama sebuah pulau yang terletak di lepas pantai utara Probolinggo. Kondisi pulau ini masih perawan dan pemandangan alam disekitar pulau ini sangat indah. Disebelah timur dan selatan pesisir pulau banyak betebaran pasir putih, demikian pula lautnya bebas dari pencemaran dan nampak kebiru-biruan, jika tidak lagi musim angin lautnya tenang, pengunjung bisa berenang bebas sambil melihat dasar laut yang ditumbuhi bunga-bunga karang yang indah berwarna-warni.Pulau Gili Ketapang hanya berjarak 5 Mil dari Pelabuhan Ujung Tembaga, perjalanan menuju pulau ini sekitar 30 menit dengan naik perahu motor. Luas pulaunya sekitar 68 hektar dengan jumlah penduduk 7.600 jiwa, sebagian besar adalah suku Madura dan hamper 90 persen terdiri dari para nelayan yang menggantungkan hidupnya dari hasil penangkapan hidupnya dari hasil penangkapan ikan di laut.
Disamping keindahan alamnya, di pulau ini juga terdapat Goa Kucing yang dikeramatkan. Konon tempat ini merupakan petilasan Syech Ishaq seorang penyebar agama Islam dalam perjalanannya dari Gresik menuju Blambangan, Banyuwangi. Pada waktu itu terdapat puluhan ribu ekor kucing dan juga terdapat kucing yang kepalanya bertuliskan bahasa Arab. Ketika tokoh penyebar Agama Islam tersebut meninggalkan pulau ini, kucing-kucing tersebut ditinggalkan begitu saja sehingga hilang tak tentu arah. Tetapi anehnya setiap malam Jum’at Legi suara “meong” kucing-kucing itu terdengar bergantian disela-sela goa yang gelap gulita dan jika suara tadi dikejar, hilang tak terdengar lagi, sedang kucingnya tidak juga tampak. Hingga kini, banyak orang mengharapkan berkah dari Goa Kucing tersebut, terutama pada malam Jum’at Legi.Keunikan lain adalah kepercayaan masyarakat setempat tentang asal usul nama “Gili Ketapang”, bahwa pulau ini memiliki tenaga gaib yang dapat bergerak lamban di tengah laut. Semula pulau ini menjadi satu dengan daratan Desa Ketapang, ketika Gunung Semeru meletus, terjadilah gempa bumi yang dahsyat sehingga sebagian daratan Desa Ketapang terpisah ke tengah laut sekitar 5 Mil dari Kota Probolinggo Sebagian daratan itu menjadi sebuah pulau yang bergerak. Oleh sebab itu masyarakat setempat menyebut pulau tersebut dengan nama “Gili Ketapang” yang berasal dari Bahasa Madura yang artinya “mengalir” sedangkan “Ketapang” adalah nama asal desanya.
Diposting oleh
Bromo Telecenter
di
6/26/2009 08:56:00 PM
0
komentar
Label: hot news, pariwisata
Candi Jabung

Salah satu peninggalan sejarah dan purbakala di Probolinggo ialah Candi Jabung yang terletak di Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton.Dalam kitab Negarakertagama, pupuhXXXI diuraikan pada saat raja Hayam Wuruk mengadakan perjalanan di daerah timur (tahun 1359) telah sampai di Kalayu berhenti untuk mengadakan upacara persembahan (nyekar = yakni upacara penaburan bunga). Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan, tempat candi makam sanak kandang Baginda Raja. Penyekaran di makam dilakukan sangat hormat “memegat sigi” nama penyekaran itu. Setelah selesai penyekaran, perjalanan diteruskan mengunjungi desa-desa di sekitarnya dan bermalambeberapa malam. Kalayu ditinggalkan dan perjalanan menuju ke Kutugan melalui Kebun Agung sampai Kambangrawi dan bermalam.
Tanah anugrah Sri Nata kepada Tumenggung Nala, candinya Budha menjulang tinggi sangat elok bentuknya. Paginya Baginda dan rombongan meneruskan perjalanan ke Kalses, B’rurang, Patunjungan, terus langsung melintasi Patentanan, Tarbu dan Lesan sampai di Pajarakan. Di samping itu dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa di desa Sajabung terdapat bangunan suci yang diberi gelar abhiseka: Barajinaparamitapura. Bila diperhatikan dari urutan perjalanan dan nama-nama desa yang dilalui dan disinggahi maka bangunan suci tersebut kiranya dapat disamakan dengan Candi Jabung sekarang dan bersifat agama Budha.Candi Jabung dibuat dari bahan batu merah dengan ukuran, panjang = 3,11 m, lebar = 9,58 m dan tinggi = 15,58 m. Pada saat sebelum diadakan pemugaran candi berdiri pada sebidang tanah yang berukuran 35 x 40 m dan sekarang telah mendapatkan perluasan tambahan tanah hasil pengadaan seluas 20.042 m2. Candi Jabung terletak pada ketinggian 8 m diatas permukaan air laut. Berdasarkan letak pintu bilik candi terletak disebelah barat, maka Candi Jabung tersebut menghadap ke barat. Pada sisi barat masih terlihat bagian yang menjorok ke depan merupakan bekas susunan tangga naik memasuki candi.Pada bangunan candi umumnya terdiri dari bagian soubasement, bagian kaki candi, tubuh candid an atap candi, demikian juga halnya yang terdapat pada Candi Jabung. Ditinjau dari sudut arsitektur Candi Jabung sangat menarik, karena bagian tubuhnya berbentuk bulat (silinder) yang berdiri diatas bagian kaki candi yang bertingkat tiga berbentuk persegi. Sedangkan bagian atapnya berbentuk stupa. Uraian singkat bagian demi bagian sebagai berikut :
1. Bagian Soubasement
Bagian soubasement Candi Jabung berukuran 13,11 m, lebar 9,8 m. Diatas bagian soubasement / dasar candi terdapat selasar keliling yang sempit dan terdapat beberapa panil relief yang belum diketahui secara pasti jalan ceritanya. Pada relief tersebut menggambarkan kehidupan sehari-hari, antara lain :
(a). Seorang pertapa memakai surban berhadapan dengan muridnya, (b). Dua orang lelaki yang sedang berada dekat sumur, salah seorang sedang memegang tali rimba, (c). Diantara panil-panil tersebut terdapat bidang panil yang berbentuk bulan menonjol semacam medalion. Sayang sekali relief yang terdapat dalam medalion tersebut sudah aus, sehingga sulit untuk diketahui, (d). Terdapat pula relief / pahatan singa yang sedang berhadapan muka dengan singa yang lain dan ekornya masing-masing melengkung keatas menyerupai sulur daun. Disamping saling berhadapan singa tersebut juga saling bertolak belakang.
2. Bagian Kaki Candi
Pada dasarnya bentuk fondasinya segi empat, hanya di bagian barat atau sisi depan terdapat bagian yang menjorok ke luar sebagian fondasi atau bagian konstruksi yang mendukung tangga naik. Keadaan sebelum dipugar di sisi sebelah timur atau belakang terdapat lubang akibat tangan jahil manusia untuk mencari harta karun yang diperkirakan disimpan di bagian tengah bawah candi.
Dari lubang tersebut kita dapat mengetahui bahwa di bagian bawah tengah Candi Jabung terdapat sebuah bilik berbentuk segi empat dengan ukuran 130 x 130 cm tanpa terdapat pintu untuk memasukinya. Selama pemugaran berlangsung lubang sisi timur telah ditutup kembali sesuai dengan keadaan semula.Bagian kaki Candi dibagi menjadi 2 (dua) kaki candi, dengan keadaan sebagai berikut :
a. Bagian kaki candi tingkat pertama.
Bagian kaki candi pertama dimulai dari lis di atas fondasi berbentuk agief dengan hiasan daun padma, kemudian lis datar dengan ketinggian lebih kurang 60 cm. Diatas lis-lis tersebut terdapat bidang panil yang terdiri dari 36 lapis batu merah atau setinggi 2 m. Pada bidang panil dipahatkan motif medalion, bidang tegak dan ornamen daun-daunan yang kesemuanya sudah tidak begitu jelas karena aus. Pada bidang tegaknya umumnya dipahatkan lukisan manusia, binatang dan pohon-pohonan.
b. Bagian candi tingkat kedua
Bagian kaki candi tingkat kedua bentuknya hampir sama dengan bagian kaki tingkat pertama, yakni dimulai hiasan daun padma dan lis datar. Di beberapa bagian terdapat bidang vertical selebar 50 cm berisi ukuran kala dan ornamen daun-daunan.
3. Bagian Tubuh Candi
Sebelum sampai ke bagian tubuh candi masih terdapat bagian yang dinamakan bagian duduk tubuh. Bagian duduk tubuh dimulai setelah bagian kaki candi tingkat kedua. Pada bagian tubuh mulai tampak peralihan bentuk dari bagian kaki candi yang persegi menuju kebagian tubuh candi yang bulat (silinder). Pada penampilan ketiga sisinya (utara, timur dan selatan) masih tampak jelas bentuk persegi, tetapi pada bagian sudut-sudutnya sudah berbentuk bulat. Pada bagian bulat di tengah-tengahnya dipahatkan ragam hias kala dan sulur gelang di kanan-kirinya, tetapi bentuk kala dari ketiga sudut tersebut bentuknya berbeda-beda, demikian juga halnya ragam hias sulur bervariasi. Pada bagian penampil yang menjorok keluar terdapat bidang-bidang panil berbentuk mendatar dan tegak. Bidang panil tegak terdapat pada sudut-sudut dan tengah, sedangkan bidang panil mendatar terletak diantara bidang panil tegak. Pada panil-panil di bagian duduk tubuh terdapat relief manusia, rumah dan pohon-pohonan. Sebagian relief sudah tidak karena aus.Setelah bagian duduk tubuh candi kemudian diteruskan dengan bagian tubuh candi yang berbentuk bulat (silinder). Sampai sekarang bagian tubuh candi masih kelihatan kuat / cukup stabil dan dihiasi relief dan ukiran yang sangat indah serta halus pahatannya. Di tengah-tengah bagian tubuh candi terdapat ban melingkar seperti ikat pinggang selebar 14 lapis batu merah. Pada tiap-tiap penampil sisi utara, timur dan selatan terdapat bagian yang menjorok keluar berbetuk pintu semu. Diatas pintu semu dipahatkan bentuk kala yang diukir secara halus dan meriah. Dibagian bawah dari ambang pintu berbentuk segi empat lebih menonjol keluar yang ditengahnya dipahatkan kepala naga dan bila dirangkaikan disebut “kala naga”.Pada penampilan sisi barat lebih menonjol bilamana dibandingkan dengan penampil sisi-sisi lainnya. Hal ini dikarenakan oleh adanya tangga naik / masuk menuju ke bilik candi yang dihubungkan dengan pintu masuk. Pada kaki ambang pintu terdapat dua lis yang terletak disebelah kanan dan kiri. Maka bagian atas bingkai pintu masuk terdapat balok batu kali berwarna hitam dengan hiasan pahatn motif aroset yang ditengah-tengahnya dipahatkan tulisan angka tahun Caka 1354 atau tahun 1354 Masehi. Angka tahun ini dapat dipakai sebagai bukti masa pembangunan Candi Jabung. Diatas batu kali tersebut dahulunya terdapat bentuk kala seperti terdapat pada penampilan sisi-sisi yang lain, namun sekarang sudah tidak dapat dilihat karena rusak dimakan jaman.Pada bagian tengah tubuh candi, melalui pintu tersebut dapat melihat bilik candi. Bilik candi berukuran 2,60 x 2,58 meter dan tingginya 5,52 meter yang dibagian atasnya terdapat batu penutup cungkup yang berukir. Di dalam bilik candi terdapat altar yang menempel pada dinding sebelah utara, timur dan selatan. Pada dinding sebelah timur terdapat tanda kerusakan, sehingga hal ini memberikan petunjuk kemungkinan semula di tempat itu diletakkan arca pemujaan.
4. Bagian Atap Candi
Sebagian dari bagian atap candi sudah hilang. Dari sisa-sisa bagian atap candi kemungkinan besar puncaknya berbentuk stupa. Sekarang yang dapat kita lihat beberapa tingkat bingkai saja, terdiri dari lis-lis datar dan deretan bingkai-bingkai tegak, bertingkat-tingkat. Bagaimana bentuk dan beberapa tingginya atap belum diketahui, karena sebagian besar dan stupa atau puncak candi sudah hilang.
Disamping candi induk, masih terdapat sebuah candi yang disebut Candi Menara Sudut (Candi Sudut), karena memang letaknya disudut bagian pagar. Candi Menara Sudut terbuat dari batu merah sejenis dengan bahan yang dipakai pada Candi Induk. Bangunan candi menara sudut berukuran tiap-tiap sisi 2,55 meter dan ketinggian sekitar 6 meter. Pada sisi dinding timur dan utara terdapat bekas susunan tembok membujur ke timur dan ke utara, sedangkan di sisi barat dan selatan tidak terdapat tanda-tanda bekas tembok (polos, asli). Dengan data tersebut kemungkinan dahulu dikelilingi oleh pagar tembok dan candi menara sudut tersebut merupakan bangunan sudut pagar.
Diposting oleh
Bromo Telecenter
di
6/26/2009 08:41:00 PM
0
komentar
Label: hot news, pariwisata
Pendakian Argopuro

Tiga punggung gunung dan pegunungan yang membatasi selatan Probolinggo yaitu pegunungan Tengger dengan Bromo, gunung Lamongan dan dataran tinggi Yang, bukan hanya menyajikan panorama yang mempesona, namun juga menantang untuk ditaklukkan yang menarik adalah kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang.Kumpulan bukit-bukit memiliki daya tarik dan keunikan yang khas sehingga mendorong bagi para peneliti dan kelompok Pecinta Alam dari berbagai Perguruan Tinggi seluruh Indonesia untuk mengadakan pendakian sampai puncak Argopuro Medan sulit dengan tebing terjal dan lembah curam, ranjau-ranjau alam yang menghadang sepanjang jalan adalah pada semak-semak menjelang tiba di Puncak Argopuro, perlu diwaspadai ranjau-ranjau alami berupa tumbuhan perdu yang dikenal sebagai pohon beracun atau daun menyengat. Batang, tangkai dan permukaan helai daunnya dipenuhi duri yang bila menggores atau menyentuh kulit, menimbulkan rasa gatal bercampur nyeri disertai panas, nyaris seperti pengaruh cairan berbisa yang ditusukkan oleh sengat lebah, lipan atau kalajengking. Tetapi anehnya, kadang-kadang sengatan tersebut secara mendadak dapat menyembuhkan beberapa penyakit diantaranya rematik.
Itulah sebabnya kawasan ini bebas dari binatang dan hewan melata yang berbahaya seperti ular, lipan, dan sebagainya. Terpaan angin dingin menyambut bersahabat para penakluk Puncak Argopuro (3.088 meter). Setiap pendaki pasti berdecak kagum. Di Argopuroyang merupakan puncak paling tinggi diantara puluhan bukit yang berhimpit di Dataran Tinggi Yang, terdapat pelataran luas dengan puing-puing bangunan runtuh yang berserakan. Meski sudah berabad-abad tak terawat, disana sini masih tersisa bentuk-bentuk bangunan utama, pondasi terpendam yang merupakan batas-batas ruang, pintu-pintu masuk dan pintu penghubung, pura pemujaan, tempat semedi, dan gapura utama. Sayang, sampai hari ini belum diketemukan sebuah prasasti atau bukti-bukti yang menunjukan bilangan tahun, sehingga reruntuhan puing bekas istana yang merupakan singgasana megah Ratu jelita “Dewi Rengganis” tetap menjadi misteri yang belum terungkap.Enggan rasanya meninggalkan lokasi memukau ini. Namun masih ada lokasi menarik yang perlu disinggahi. Setelah dari Puncak Argopuro atau lebih dikenal “Istana Rengganis”, kita kembali menuju Cicentor untuk meneruskan perjalanan ke Si Kasur. Mengitari bukit Batu Lempeng, menuruni Pondok Celot, melewati Taman Sarang Labah-labah yang dikenal dengan nama Si Mesem yang artinya tersenyum. Dilokasi ini pengunjung hampir pasti tersenyum dan tersenyum, mengagumi keajaiban alam.Dimana-mana bertebaran sarang laba-laba. Yang tersaji kemudian adalah hamparan padang rumput yang sangat luas bagaikan kasur, sehingga lokasi ini dinamakan “Si Kasur”.
Dilokasi Si Kasur, terdapat dua buah bungalow yang tinggal pondasi dan separuh dinding batu, namun berdiri sangat kokoh. Bekas bangunan Tuan Ladebour (Belanda) ini dilengkapi dengan pondasi landasan pesawat terbang. Pada peta kawasan Dataran Tinggi Yang, lokasi ini disebut Alun-Alun Besar. Tidak jauh dari dekat bangunan tersebut yang sekarang ditandai dengan sebutan Cemara Satu, terdapat mata air yang disebut Sungai Kolbu dengan selada air terhampar disepanjang hulu sungai cagar alam itu. Sayur segar yang lezat ini agaknya memang disediakan bagi mereka yang bertenda di Si Kasur.
Dari Si Kasur, menuruni lembah yang dikenal dengan Jurang Dalam, melewati Jambangan, mengikari bukit Cemara Dua, menelusuri Alun-Alun kecil, tiba di bukit Cemara Panjang (terdapat mata air). Jika perjalanan diteruskan, ada simpangan yang berupa rambu dan papan peringatan. Setelah melewati Pondok Lalang, Taman Sari dan Batu Lawang, route pendakian Puncak Argopuro / Rengganis berakhir di pintu keluar Badaeran.
Diposting oleh
Bromo Telecenter
di
6/26/2009 08:35:00 PM
0
komentar
Label: hot news, pariwisata
Madakaripura

Kajian sejarah yang dilakukan dengan seksama, membuktikan bahwa Indonesia yang elok dan permai ini, dulu disebut Nusantara. Ketika pada tahun 1869 seorang penulis Eropa yang bernama James Richard Logan menulis nama Indonesia untuk pertama kalinya dan kemudian diikuti oleh pengarang Eropa lainnya, nama Indonesia menjadi lebih populer ketimbang Nusantara.Keberadaan Nusantara adalah sebuah imperium yang luas, membentang dari Wanin hingga Madagaskar, dalam rengkuh kekuasaan seorang Maha Raja Mojopahit bergelar Prabu Hayam Wuruk. Adalah seorang Perdana Menteri yang dikenal sebagai Maha Patih Gajah Mada, berjuang dengan gigih secara heroic mempersatukan seluruh wilayah Nusantara berada di bawah payung kekuasaan Majapahit. Wajar jika kemudian sosok Gajah Mada lebih dikenal dari Hayam Wuruk maupun Majapahit.Madakaripura adalah suatu tempat kunjungan wisata sakral berupa deretan Air Terjun yang sentralnya mencapai ketinggian sekitar 200 meter dari dasar jeram. Air yang jatuh itu melayang-layang sambil bercanda , berhamburan menari-nari kesana kemari, meluncur turun saling mendahului, kemudian jatuh ke dasar jeram menimbulkan irama yang gemuruh. Kadang disela oleh debam dahsyat yamh gemanya menggetarkan relung sempit berdiameter tak kurang dari 25 meter itu, hingga terdengar menggelegar. Menyusul hempasan angin yang menderu-deru, mengibaskan butiran air yang lembut, menyambut mereka yang datang. Semburan air yang berhamburan itu membiaskan warna warni indah disorot sinar surya bagai Mata Dewa, menciptakan bianglala.
Keperkasaan yang dahsyat di Madakaripura dipilih oleh Gajah Mada sebagai tempat bertapa untuk memperoleh kesentosaan hingga ia menjadi sakti mandraguna. Setelah membuktikan Sumpah Palapa dan berhasil mempersatukan seluruh Nusantara, ditempat inipula ia menghabiskan sisa usianya, mempersiapkan diri untuk Muksha menuju ke Nirwana. Ternyata Mada Kari Pura memang berarti “tempat tinggal terakhir” Gajah Mada. Manakala kita merindukan kebesaran jasa Gajah Mada, dan ingin menghayati kehebatannya, kita bisa datang kesana untuk menunggu munculnya bianglala. Sukmanya akan turun meniti tangga berwarna, bersiram air suci “Tirta Sewana”. Banyak orang percaya bahwa “Tirta Sewana” berkhasiat memberikan kesembuhan dan membuat awet muda.Lokasi Madakaripura berada 620 meter diatas permukaan air laut dan terletak di kawasan tengger tidak jauh dari Bromo tepatnya di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, agaknya alam menempatkan Madakaripura sebagai pelengkap Bromo. Kepayahan dan kepenatan sehabis medaki puncak Bromo, akan sirna dengan mandi Air Suci Tirta Sewana untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke obyek-obyek wisata lainnya dikawasan Probolinggo.
Diposting oleh
Bromo Telecenter
di
6/26/2009 08:25:00 PM
0
komentar
Label: hot news, pariwisata
Bentar Indah

Bentar Indah adalah obyek wisata Pantai yang terletak di tepi jalan raya Surabaya –Banyuwangi, termasuk wilayah Kecamatan Gending yang jaraknya 7 kilometer dari Kota Probolinggo, kea rah timur. Obyek wisata ini sangat potensial mengingat lokasinya merupakan lintasan wisata dari Bali – Surabaya- Yogyakarta – Jakarta dan sebaliknya.Fasilitas di kawasan Pantai Bentar Indah yang semakin lengkap
Karena letaknya yang sangat strategis, Bentar Indah dapat dikembangkan menjadi semacam resort yang akan tetap menjadi ideal untuk dijadikan obyek wisata penunjang. Rencana pengembangan disekitar obyek wisata pantai ini akan didirikan Hotel Terapung dilengkapi dengan fasilitas penunjang lainnya berupa water sport, sea aquarium, play ground, swimming poll, manggroves forest, fish pond dan sarana pendukung lainnya. Terlebih lagi kalau kita lihat sepanjang perjalanan dari Surabaya menuju Denpasar Bali hanya ada satu tempat rekreasi pantai yang digunakan sebagai stop over wisatawan, yaitu pantai Pasir Putih (Situbondo). Dengan demikian pengembangan Bentar Indah diwaktu mendatang sangat cerah, khususnya bagi pengusaha-pengusaha restorant dan perhotelan.
Kondisi Bentar Indah sekarang letaknya tepat ditikungan jalan raya, dimana diseberang jalan terdapat bukit. Apabila para wisatawan berhasil menaiki bukit, akan tampak lokasi Bentar Indah berada dibibir pantai dengan latar belakang pemandangan laut yang sangat indah. Disebelah timur dari lokasi wisata terdapat hutan bakau yang akan diperluas untuk dibuat beberapa tambak tradisional yang akan ditebari bibit ikan laut maupun udang. Siapapun yang ingin memancing, bisa melakukannya dengan membayar sebagai ganti dana pemeliharaan tambak. Apabila beberapa fasilitas dan sarana penunjang tersebut sudah diwujudkan, maka perjalanan dari Probolinggo menuju Pulau Gili Ketapang tidak melalui Pelabuhan Tanjung Tembaga, tetapi dialihkan ke Pantai Bentar Indah.
Diposting oleh
Bromo Telecenter
di
6/26/2009 08:20:00 PM
0
komentar
Label: hot news, pariwisata
Gunung Bromo

Bromo bukan hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia, tetapi sudah menjadi agenda kunjungan wisata bagi masyarakat dunia. Tidak pernah sepi dari kunjungan para turis, bahkan mereka betah berhari-hari tinggal disana.Meniti tangga menuju puncak Gunung Bromo untuk menyaksikan terbitnya matahari bukan suatu hal yang terlalu berlebihan. Namun bermain-main dibibir kepundan yang menganga kemudian merayap turun menjejakkan kaki telanjang pada magma beku untuk mengukir nama kemudian mengabadikannya, barangkali hanya bisa dilakukan di Bromo tidak ditempat lain.
Gunung Bromo berada dikawasan pelestarian alam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan merupakan Taman Nasional paling spektakuler dan paling mudah dikunjungi diantara Taman Nasional lainnya yang ada di Indonesia yang terletak antara 1.000 – 3.676 meter diatas permukaan air laut. Wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terletak pada rangkaian pegunungan berapi yang merupakan salah satu dari rangkaian besar pegunungan yang terbentang sepanjang Pulau Jawa. Dibagian utara pegunungan Tengger terdapat kaldera Tengger yang sangat indah dan menarik, garis tengahnya mencapai 8-10 kilometer, sedang dindingnya yang terjal tingginya antara 200–700 meter.Dasar Kaldera Tengger berupa laut pasir seluas 5.290 ha, terdapat Gunung Bromo (2.392 m), Gunung Batok (2.470 m), Gunung Kursi (3.392 m), Gunung Watangan (2.601 m), dan Gunung Widodaren (2.600 m). Gunung Bromo merupakan gunung yang masih aktif yang pada waktu tertentu mengeluarkan asap. Disamping untuk tujuan pariwisata, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru berfungsi pula untuk : Penelitian, Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Pendidikan, Konservasi dan Pembinaan Cinta Alam.Seperti pada umumnya Taman Nasional lainnya di Indonesia, pengelolaan Taman Nasional ini dilaksanakan oleh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang kantornya berada di Malang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Perlindungan Hutan dan Pelestarian alam, Departemen Kehutanan.Menurut Schmidt and Ferguson type iklim di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tergolong type C dan D. Sedangkan musim hujan berlangsung pada bulan Oktober sampai Maret. Suhu rata-rata berkisar antara 7-18 derajat celcius. Type vegetasi hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah type Hutan Hujan Pegunungan yang terdiri dari Hutan Tinggi, Hutan Alfin, Hutan Cemara, Padang Rumput dan vegetasi Kaldera. Tumbuhan yang banyak dijumpai adalah Cemara (Casuarina junghuhniana), Akasia (accaccia decurens), Mentigi (Vacinium varingaefolium), Adas (Anethum graveolens), Senduro atau bagi masyarakat Tengger disebut bunga Tanalayu dan juga sering disebut sebagai bunga Edelwise (Anaphalis javanica), dan berbagai jenis anggrek alam di daerah Semeru selatan.Fauna yang sering dijumpai adalah Rusa (Cervus timorensis), Kijang (Muntiacus muntjak), Budeng (Presbytis cristata), Burung Pita (Pitta guajana), Rangkok (Rhyticeros undulatus), Bido (Spilomis cheela bido), dan Belibis (Anas superciliosa).Pintu gerbang utama menuju ke Laut Pasir dan Gunung Bromo melalui Cemorolawang. Kawasan ini merupakan daerah wisata yang paling ramai terutama pada hari libur. Beberapa aktivitas dapat dilakukan di daerah ini antara lain : berkemah, menikmati pemandangan alam, berkuda menuju Lautan Pasir atau berjalan kaki. Untuk mencapai puncak Gunung Bromo dapat menaiki tangga yang telah disediakan. Kawah Gunung Bromo merupakan kawah yang menganga lebar dengan kepulan asap yang keluar dari dasar kawah menandakan bahwa gunung tersebut masih aktif.Pemandangan matahari terbit di Gunung Bromo sangat indah dan menjadi daya tarik tersendiri dan untuk menikmatinya kita dapat berangkat dari Cemorolawang pada jam 04.00 WIB.Untuk mencapai daerah Cemorolawang digunakan rute: Probolinggo – Tongas / Ketapang – Sukapura – Ngadisari kurang lebih berjarak 42 kilometer dengan menggunakan kendaraan pribadi atau umum sampai Ngadisari. Sedangkan dari Ngadisari – Cemorolawang kurang lebih 3 kilometer dapat berjalan kaki atau memakai kendaraan Jeep.
Diposting oleh
Bromo Telecenter
di
6/26/2009 08:14:00 PM
0
komentar
Label: hot news, pariwisata
Senin, Juni 22
Masyarakat Tengger

Sejak ditemukannya prasasti Tengger bertahun 851 Saka (929 Masehi), diperkuat dengan Prasasti Penanjakan bertahun 1324 Saka (1402 Masehi), diketahui bahwa sebuah desa bernama Wandalit yang terletak di pegunungan Tengger dihuni oleh Hulun Hyang (hamba Tuhan = orang-orang yang taat beragama) yang daerah sekitarnya disebut hila-hila (Suci). Oleh karena itu kawasan Tengger merupakan tanah perdikan istimewa yang dibebaskan dari pembayaran pajak oleh pusat pemerintahan di Majapahit.Masyarakat Tengger yang taat beribadah dan menjalankan adat istiadat, memiliki hubungan historis yang sangat erat dengan Majapahit. Para raja yang bertahta dan pembesar keraton, telah memperlakukan secara khusus masyarakat Tengger yang sejak semula sangat menarik perhatian. Tidak heran jika kemudian terdapat perbedaan cirri-ciri khas antara pemeluk Agama Hindu di Tengger dengan pemeluk Agama Hindu di Bali.
Kukuh dalam mempertahankan adat istiadat selama berabad-abad, tanpa terpengaruh guncangan perubahan zaman, merupakan daya tarik bagi Ilmuwan khususnya para Anthropolog baik dalam maupun dari luar negeri, untuk mengadakan penelitian. Sehingga muncul berbagai versi sajian tulisan tentang uniknya Masyarakat Tengger di Probolinggo. Paparan itu ada yang berbentuk dongeng, cerita rakyat, serat dan kidung, legenda serta penulisan ilmiah. Ilmuwan asing yang pernah menelusuri sejarah Masyarakat Tengger adalah Nancy J Smith dan Robert W Hefner, berdasarkan versi mereka.Selain taat beribadah dan sangat patuh menjalankan adat-istiadat, Masyarakat Tengger dikenal jujur, patuh, dan rajin bekerja. Mereka hidup sederhana, tenteram, dan damai. Nyaris tanpa adanya keonaran, kekacauan, pertengkaran maupun pencurian. Suka bergotong royong dengan didukung oleh sikap toleransi yang tinggi, disertai sesuatu yang khas, karena senantiasa mengenakan “kain sarung” kemanapun mereka pergi. Tidak terbatas laki-laki, namun wanitapun juga, yang dewasa maupun anak-anak, semua berkain sarung. Masyarakat Tengger masih percaya dengan dengan roh halus, benda-benda gaib, tempat-tempat keramat serta berbagai mitos.Kelompok-kelompok masyarakat Tengger dikepalai oleh seorang “Dukun”. Dukun-dukun tersebut dikepalai oleh Bapak Mudjono selaku Kepala Dukun. Dukun sebagai pimpinan Agama sekaligus sebagai Kepala Adat, bertugas dan bertanggung jawab dalam memimpin upacara-upacara adat. Dalam menunaikan tugasnya, Dukun dibantu oleh beberapa orang petugas yaitu:
1. Wong Sepuh, bertugas sebagai pembantu dalam menyiapkan sesaji upacara-upacara kematian.
2. Legen, bertugas membantu mempersiapkan peralatan dan sesaji pada upacara perkawinan.
3. Dukun Sunat, bertugas melaksanakan khitanan anak laki-laki menjelang umur remaja. Khitan bagi anak laki-laki Tengger berbeda dengan khitan dalam Agama Islam. Khitan anak laki-laki Tengger hanya sekedar memotong sedikit kulit ujung penis.
4. Dukun Bayi, bertugas menolong ibu yang akan melahirkan.
Memperhatikan betapa pentingnya peran dukun bagi Masyarakat Tengger, maka ditetapkan setiap desa dikepalai oleh seorang Dukun. Dukun dipilih oleh warga dengan persyaratan tertentu, yaitu : (1). Laki-laki sudah menikah, (2). Keturunan Dukun / titisan darah, (3). Dapat menguasai semua mantera / adat istiadat. Ujian calon Dukun dilakukan di Poten tempat upacara adat dan dilaksanakan bertepatan dengan Yadnya Kasada.
Konon yang merupakan “Cikal Bakal” masyarakat Tengger adalah sepasang suami istri yaitu Rara Anteng (Teng) dan Jaka Seger (Ger). Perpaduan dua suku kata itulah kemudian menjadi akronim yang dikenal dengan nama TENGGER. Rara Anteng ialah seorang putri Prabu Brawijaya dengan Garwa Padmi, raja terakhir Majapahit, yang termashur memiliki wajah ayu rupawan. Ia diasuh oleh seorang Resi bernama Ki Dadap Putih, tinggal dikawasan Gunung Bromo yang pada waktu itu masih berwujud hutan belantara.
Pada suatu hari, seorang Senopati berdarah Brahmana yang bernama Jaka Seger sedang menempuh perjalanan jauh melintasi daerah ini bertemu dengan Rara Anteng. Kedua muda-mudi tersebut saling tertarik dan jatuh cinta yang akhirnya dikawinkan oleh Resi Ki Dadap Putih. Sejak saat itu Rara Anteng dan Jaka Seger resmi menjadi pasangan suami-istri.
Bertahun-tahun Rara Anteng dan Jaka Seger mendambakan keturunan, namun Yang Maha Kuasa belum juga berkenan mengkaruniai putra. Maka bertapalah mereka di Watu Kuta menghadap Gunung Bromo. Siang malam hanya berdoa semoga Sang Maha Agung mengabulkan permintaannya.Suatu ketika, terjadi isyarat alam yang sangat dahsyat. Gunung Bromo berdentum hebat. Dari kawahnya menyembur api yang membiaskan sinar kemerahan, menerangi pekat malam dan menyadarkan kekhusukan Rara Anteng dan Jaka Seger yang sedang bertapa. Mereka yakin bahwa peristiwa alam dahsyat yang baru saja terjadi merupakan isyarat bahwa permohonan akan terkabul. Namun isyarat alam itu segera diikuti oleh terdengarnya suara gaib yang mengatakan : “Bahwa kelak apabila Sang Hyang Widhi berkenan mengaruniai putra-putri, salah seorang akan dijadikan korban persembahan ke kawah Gunung Bromo”. Kembali dentuman dahsyat kawah Gunung Bromo itu terjadi, seakan menjadi saksi, bahwa terkabulnya permohonan Rara Anteng dan Jaka Seger harus ditebus dengan persembahan salah seorang anaknya ke Kawah Gunung Bromo.Ternyata isyarat alam itu benar. Selang beberapa waktu kemudian Rara Anteng melahirkan putra pertama. Anak sulung ini diberi nama Tumenggung Klewung. Disusul kemudian dengan putra-putri berikutnya yang jumlahnya sebanyak 25 orang. Anak paling bungsu diberi nama Raden Kusuma. Kehadiran 25 putra putri tersebut sangat membahagiakan. Namun dibalik kebahagiaan itu terselip kecemasan tentang syarat yang harus dipenuhi. Rara Anteng dan Jaka Seger senantiasa menjaga putra-putrinya dengan hati-hati. Kepada mereka disarankan untuk selalu menjauhi kawah Gunung Bromo.Ketika pada suatu hari terdengar dentuman keras dari kawah Gunung Bromo, pasangan suami istri ini kembali menjadi gundah. Mereka menangkap isyarat alam yang maknanya merupakan peringatan untuk menagih janjinya. Diam-diam ada pertentangan batin yang sangat mengusik, antara kewajiban untuk memenuhi syarat dengan naluri orang tua yang menyayangi putra-putrinya. Pada akhirnya diputuskan untuk tidak merelakan salah satu dari putra-putrinya dijadikan korban persembahan. Mereka tepis semua kecemasan, kesanggupan untuk memenuhi syarat korban persembahan secara perlahan mulai dilupakan.
Putra-putrinya disembunyikan dibalik Gunung Penanjakan dengan harapan terhindar dari bahaya. Tetapi kehendak yang Sang Maha Agung tak bisa dielakkan lagi. Pada suatu hari kawah Gunung Bromo menyemburkan api, lidah api yang membara menjilat Raden Kusuma, menyeretnya masuk ke dalam kawah. Dengan misterius Raden Kusuma hilang. Setelah itu suasana alam menjadi tenang kembali. Dentupan api kawah reda. Dalam keheningan alam, terdengar suara gaib yang mengisyaratkan bahwa hilangnya Raden Kusuma adalah perwujudan dari syarat yang harus dipenuhi, sebagai persembahan kepada Dewata Sang Yang Agung, atas terkabulnya permintaan ketika mereka bertapa. Selanjutnya suara gaib (Raden Kusuma) berpesan agar setiap tanggal 14 bulan Purnama, di Bulan KASADA, disediakan sebagian hasil ladang umtul dikirimkan kepada Raden Kusuma di Kawah Gunung Bromo.Meskipun masih diliputi suasana sedih, suara gaib yang mereka dengar merupakan petunjuk yang mereka yakini untuk kemudian dapat mereka laksanakan. Rara Anteng dan Jaka Seger menyadari meskipun mereka sudah berusaha menjaga dan melindungi putra-putrinya, namun Sang Hyang Agung menghendaki lain. Bagaimanapun kepergian Raden Kusuma yang berkorban mewakili saudara-saudaranya harus mereka ikhlaskan.
Maka setiap tanggal 14 bulan purnama di bulan Kasada, dikirimilah Raden Kusuma beragam hasil ladang ke kawah Gunung Bromo. Upacara persembahan tersebut menjadi tradisi yang diselenggarakan secara turun temurun hingga sekarang yang diberi nama Yadnya Kasada.
Because of that, every full moon at 14th in Kasada Month, people sent Raden Kusuma many kinds of havest in Bromo Mountain. That gift ceremony becomes a tradition (custom) that held heritagely up to now. And it is called Yadnya Kasada.
Nama putra-putri Rara Anteng dan Jaka Seger yang berjumlah 25 orang itu dikaitkan dengan tempat-tempat keramat di daerah Bromo, yaitu:
1. Tumenggung Klewung (Gunung Ringgit)
2. Sinta Wiji (Gunung Kidangan)
3. Ki Baru Klinting (Lemah Kuning)
4. Ki Rawit (Gunung Sumber Semani)
5. Jinting Jinah (Gunung Jinahan)
6. Ical (Gunung Pranten)
7. Prabu Siwah (Gunung Lingga)
8. Cokro Pranoto Aminoto (Gunung Gendera)
9. Tunggul Wulung (Cemoro Lawang)
10. Tumenggung Klinter (Gunung Penanjakan)
11. Raden Bagus Waris (Watu Balang)
12. Ki Dukun (Watu Wungkuk)
13. Ki Pranoto (Poten)
14. Ni Perniti (Gunung Bajangan)
15. Petung Supit (Tunggukan)
16. Raden Mas Sigit (Gunung Batok)
17. Puspa Ki Gentong (Widodaren)
18. Kaki Teku Niti Teku (Guyangan)
19. Ki Dadung Awuk (Banyu Pakis)
20. Ki Demeling (Pusung Lingker)
21. Ki Sindu Jaya (Wonongkoro)
22. Raden Sapujagad (Pundak Lemdu)
23. Ki Jenggot (Rujag)
24. Demang Diningrat (Gunung Semeru)
25. Raden Kusuma (Gunung Bromo)
The names of Rara Anteng’s and Jaka Seger’s children (25 children) was hooked on the sacre places in Bromo, they are :
1. Tumenggung Klewung (Ringgit Mount)
2. Sinta Wiji (Kidangan Mount)
3. Ki Baru Klinting (Lemah Kuning)
4. Ki Rawit (Sumber Semani Mount)
5. Jinting Jinah (Jinahan Mount)
6. Ical (Pranten Mount)
7. Prabu Siwah (Lingga Mount)
8. Cokro Pranoto Aminoto (Gendera Mount)
9. Tunggul Wulung (Cemoro Lawang)
10. Tumenggung Klinter (Penanjakan Mount)
11. Raden Bagus Waris (Watu Balang)
12. Ki Dukun (Watu Wungkuk)
13. Ki Pranoto (Poten)
14. Ni Perniti (Bajangan Mount)
15. Petung Supit (Tunggukan)
16. Raden Mas Sigit (Batok Mount)
17. Puspa Ki Gentong (Widodaren)
18. Kaki Teku Niti Teku (Guyangan)
19. Ki Dadung Awuk (Banyu Pakis)
20. Ki Demeling (Pusung Lingker)
21. Ki Sindu Jaya (Wonongkoro)
22. Raden Sapujagad (Pundak Lemdu)
23. Ki Jenggot (Rujag)
24. Demang Diningrat (Semeru Mount)
25. Raden Kusuma (Bromo Mount)
Upacara KASADA yang diselenggarakan pada tengah malam ketika Purnama berada diatas kepala itu, dipimpin oleh DUKUN (Kepala Adat) dengan tata cara yang unik. Tidak mengherankan apabila kemudian peristiwa ini sangat dinanti-nanti oleh para wisatawan. Sehingga terasa begitu akbar, karena disaksikan oleh puluhan bahkan ratusan ribu pasang mata yang ikut menyaksikannya.
Diposting oleh
Bromo Telecenter
di
6/22/2009 10:04:00 AM
0
komentar
Label: pariwisata
Tari Glipang

Yaitu sebuah tari yang bersumber dari kesenian rakyat Probolinggo yang hidup tumbuh dan berkembang ditengah kehidupan rakyat dan tarian ini diiringi dengan musik tradisional yang dinamakan “Glipang”.Tari Kiprah Glipang ini menggambarkan betapa gagah dan terampilnya para pemuda yang sedang berlatih olah keprajuritan. Perkumpulan Tari Kiprah Glipang yang terkenal berada di Desa Pendil – Banyuanyar hingga banyak orang berkeyakinan bahwa desa inilah tempat asal muasalnya kesenian ini.Desa Pendil telah mempopulerkan kesenian ini sampai ke tempat-tempat lain diluar Probolinggo.
Diposting oleh
Bromo Telecenter
di
6/22/2009 10:00:00 AM
0
komentar
Label: pariwisata
Kuda Kencak

Satu jenis kesenian yang paling unik dan menarik dari Probolinggo adalah tarian Kuda Kencak. Kata “kencak” sendiri berarti mengangkat kaki berulang kali. Satu gerakan indah dan jenaka yang dilakukan oleh kuda mengiringi irama bunyi-bunyian dari gamelan yang ditabuh oleh beberapa orang. Sang kuda diberi hiasan warna-warni. Seorang anak yang duduk dipunggungnya juga memakai pakaian yang tidak kurang gemerlapannya, diberi untaian bunga sekeliling kepalanya, dipayungi dengan payung berwarna serta diarak dan diperlakukan bagai pengantin.Tradisi ini sebenarnya dilakukan dalam upacara mengkhitankan seorang anak. Tetapi perkembangan menunjukkan bahwa kebiasaan ini juga dilaksanakan sebagai penebus nazar atau niat seseorang. Misalnya saja seseorang akan mempagelarkan Kuda Kencak apabila anaknya sembuh dari sakit. Maka bila anaknya benar-benar telah sembuh, si anak akan menari bersama kuda kencak dan diarak beramai-ramai.
Setibanya dari arak-arakan tersebut, barulah diadakan pertunjukan sepenuhnya. Gamelan di tabuh dengan irama tertentu. Pengiringnya, biasanya disebut “Janis”, akan ikut pula menari dan membawakan kidung-kidung, sejenis pantun sindir menyindir dan dibawakan bersahut-sahutan. Dalam irama gamelan itulah kuda dengan kejenakaannya mengangguk-angguk, menggeleng-gelengkan kepala serta merentak-rentakkan kakinya sesuai dengan ritme bunyi-bunyian. Kini kuda kencak sering dipagelarkan untuk menyambut tamu-tamu agung atau tamu-tamu yang dihormati.
Another kind of an artistic performance which is unique and attractive in Probolinggo is the Kencak Horse Dance. The word Kencak it self means : to lift feet many times repeatedly. It is a beautiful and joyful movement of horses when they hear gamelan sounds sounded by some people. The horses are given colourful ornaments. A child sitting on the horse’s back is also wearing an ornamental dress, wearing dangling flowers around his head while some-oneholds a colourful umbrella treating him as a bridegroom in a solemn procession. This tradition is actually held in a ceremony of a circumcision as a redemption of someone’s vow.
Diposting oleh
Bromo Telecenter
di
6/22/2009 09:56:00 AM
0
komentar
Label: pariwisata

